Selasa, 02 Oktober 2007

Nikmatnya Masturbasi Dengan Dildo

Saya mahasiswi sebuah perguruan tinggi swasta, di jakarta. Tinggi saya 158 cm, putih, rambut sebahu, dan sejak SMU orang-orang bilang saya mirip sekali dengan artis Cut Keke. Awalnya saya bangga dibilang begitu karena mirip artis tetapi lama kelamaan saya menjadi segan. Pernah bulan lalu, mungkin karena saking miripnya dengan si Cut Keke, seorang wartawan Infotainment melihat saya sedang Jalan-jalan di Plaza Senayan dan ia langsung menghampiri saya dan menanyakan sesuatu tentang fashion. Saya awalnya terheran-heran tetapi langsung saya bilang, "Salah orang, Mas!" hehehe..

Saya suka sekali masturbasi. Sejak SMU gairah seks saya tinggi sekali. Tetapi saya bisa meredam gejolak seks saya. Saya dibesarkan di lingkungan keluarga yang taat beragama. Pertama kali masturbasi terjadi ketika saya sudah kelas 3 SMU. Waktu itu saya dan teman-teman (laki dan perempuan) sedang nongkrong di rumah teman setelah seharian lelah belajar kelompok. Si Harry datang dan membawa sebuah kaset video porno dan langsung menyetel film itu di rumah temanku. Kami semua langsung menonton. Saya sendiri baru pertama kali menonton film porno dan ada perasaan jijik dan bergairah. Setelah selesai menonton film, kami pun pulang ke rumah. Karena saya membawa mobil sendiri, saya mengantar Harry dan 3 orang teman ke halte bis terdekat.

Setiba di rumah, saya memarkir mobil di garasi lalu sebelum keluar dari mobil perhatian saya tertuju pada kaset video yang tergeletak di jok mobil bagian belakang. Rupanya kaset itu terjatuh dari tas Harry. Segera saya masukkan video itu ke tas saya lalu saya langsung masuk kamar. Saat itu sudah jam 21:30, kedua orang tuaku sudah tidur. Saya bergegas mandi lalu mengganti baju. Setelah itu dengan deg-degan, saya memutar film porno itu di kamar saya karena kebetulan saya punya TV dan video player sendiri. Dengan penuh minat, saya perhatikan adegan-adegan ML, saya perhatikan bentuk kelamin pria dan wanita. Saya bisa lebih santai melihatnya dibandingkan tadi sore karena malu apabila terlihat terlalu serius. Ada satu adegan dimana si wanita sedang rebahan di tempat tidur dalam keadaan telanjang. Si wanita memainkan jarinya di selangkangan dan payudaranya sambil mendesah dengan penuh nikmat. Saya menjadi penasaran untuk mencoba. Saya selipkan tangan kananku ke dalam celana dalamku lalu meraba vagina. Saya tidak merasakan kenikmatan. Kemudian saya perhatikan si wanita itu membuka bibir vaginanya. Saya lalu mencoba membuka bibir vaginaku dengan jari telunjuk dan jari tengah lalu tangan kiriku mulai mengusap vaginaku. Sontak tubuhku langsung seperti disetrum. Saya merasakan sebuah kenikmatan yang luar biasa. Saya mencoba memainkan klitoris. Saya elus-elus, putar-putar dan pilin-pilin. Oh nikmatnya! birahi saya langsung naik, nafas saya mulai mendesah-desah kenikmatan seperti si wanita itu. Vagina saya sudah basah dengan lendir. Akhirnya saya langsung membuka semua bajuku dan tidur telanjang bulat di tempat tidur. Kembali tangan kananku memainkan klitoris sedangkan tangan kiriku meremas-remas payudaraku yang saat itu berukuran 34B. saya mainkan ujung putingnya. saya plinir-plintir dan tarik-tarik. Ouughh..Rasanya seperti mengawang di surga. Nikmatnya tiada tara. Saya mulai mempercepat gerakan jariku di klitoris, semakin cepat hingga akhirnya tubuhku seperti kembali disengat listrik. Tubuhku mengejang hebat dan bergetar. Ada rasa lega yang tidak bisa saya lukiskan. Vagina dan selangkanganku basah dengan cairan, apakah ini dinamakan orgasme ?. Saya merasakan si wanita di film itu juga merasakan hal yang sama dengan saya. Si wanita itu menjilat jarinya yang basah oleh cairan dari vaginanya. Saya mencoba menjilat jariku, rasanya sedikit asin. Setelah masturbasi pertama itu, saya tertidur dengan nyenyak. Sekitar jam 3 pagi, saya terbangun dan kembali hasrat seks saya bangkit kembali dan saya kembali bermasturbasi.

Semenjak itu, saya senang sekali bermasturbasi hingga saya pertama kali ML. Saya ML saat kuliah semester I dengan kakak seniorku. Tapi saya tidak merasakan nikmatnya bercinta, setelah perawan saya hilang cowo saya menghilang. Akhirnya kembali saya melakukan masturbasi untuk mengatasi libido sex saya. Umumnya saya masturbasi hanya dengan tangan. Saya mencoba memakai ketimun tetapi kurang bisa saya nikmati karena terasa aneh di vaginaku. Pada waktu saya kuliah Semester 2 di tahun 2005, ada cewek sahabat kuliah saya pergi ke Singapore untuk untuk berlibur. Dia juga seorang cewek yang memiliki libido sex seperti saya. Kita saling smsan. Disana sahabat saya Jalan-jalan ke Orchard Road. Di sepanjang Orchard Road, Sahabat saya menjumpai sebuah toko kecil yang menjual peralatan-peralatan untuk seks. Sahabat saya baru pertama kali melihat toko itu dan dengan terheran-heran masuk ke dalam. Berbagai macam kondom dijual dan dipajang di rak-rak. Buku-buku seputar seks bahkan dildo juga dijual. Dildo adalah penis tiruan terbuat dari karet yang dipakai wanita untuk masturbasi. Bentuknya bermacam-macam. Ada dildo yang dibuat mirip sekali dengan penis, ada dildo yang dibuat berbentuk tabung oval stainless steel, bahkan ada juga dildo yang dibuat bercabang sehingga si wanita bisa memasukkannya ke dalam vagina dan anusnya secara bersamaan. Awalnya saya ditawari minta oleh-oleh apa ?, Dia berminat membeli salah satu Dildo, akhirnya setelah dijelaskan fungsinya saya setuju dibelikan satu Dildo. Sahabat saya mau nekat membeli dildo yang bercabang tetapi diurungkan niat itu dan pilih dildo yang mirip penis asli. Sahabat saya berjalan menuju kasir. Di sebelahnya ada seorang pria tinggi dan tegap dengan potongan rambut cepak. Ia berkata.. "Jangan lupa beli jel pelumas karena nanti bisa lecet" seraya menunjuk ke botol yang dipajang dirak. Sambil tersenyum malu, sahabat saya menghampiri rak botol jel pelumas dan mengambil satu. "Kamu orang Indonesia ya?" kata pria itu dalam bahasa inggris. "Iya, kok tau?" sahabat saya membalas dengan bahasa inggris. "Banyak orang Indonesia disini, saya bisa membedakannya. Nama saya Richard Chen" "Saya Vita" Richard membayar ke kasir satu kotak kondom lalu sahabat saya kemudian membayar 2 dildo dan 2 botol jel. Selesai itu mereka berpisah.

Setiba di Jakarta, Sahabat saya memberikan 1 dildo dan 1 botol jeli itu kepada saya. Setiba di kamar (saya tidur di kamar sendiri), saya langsung membuka bungkusan dildo dan botol jeli. Kemudian saya membuka seluruh bajuku dan telanjang bulat di tempat tidur membaca petunjuk pemakaian yang tertera di kotak dildo. Saya memperhatikan dengan seksama dildo itu. Memang sangat mirip dengan penis asli. Bentuknya cukup besar sekitar 30 cm, diameter 4cm dan berwarna coklat muda. Saya berpikir apakah ini muat dalam vagina saya? Mari kita coba! Saya merebahkan diri di tempat tidur lalu membuka lebar kakiku, lalu saya rangsang tubuh saya terlebih dahulu dengan berimajinasi agar birahi saya naik dan vagina saya menjadi basah. Kemudian dildo saya arahkan ke vaginaku. Tak lupa saya oleskan jel pelumas di seluruh dildo kemudian saya mulai menggesek-gesekkan Dildo ke klitoris saya sstt..nikmat..sekali..lalu saya masukkan dengan perlahan ke vagina. sstt.. uuffhh..hhmmm.. Awalnya agak seret tetapi dengan sabar saya masukkan hingga mentok diujung vagina. oouugghh...Setelah itu saya mulai tarik lagi keluar. sstt..aakkhh..Saya menikmati setiap senti dari dildo yang masuk dalam vaginaku. Mataku terpejam menikmati sensasi ini, vaginaku terasa basah dan licin. Setelah dildonya keluar semua, kembali saya masukkan dan kali ini lebih cepat.sstt..uugghh..aakkhh..ssstt.. Akhirnya vagina saya sudah terbiasa dengan dildo itu sehingga saya bisa mengocok dildo dengan cepat. Nafas saya memburu dengan cepat. Keringat saya mengucur disekujur tubuhku. Payudara kuremas-remas sembari mengocok dildo di vagina. Ada sekitar lima menit saya memainkan dildo itu dalam vaginaku hingga tubuh saya mengejang bergetar..oouugghh..aaakkhh..aarrgghhh...saya dapat orgasme pertama. Setelah itu, saya mencoba sensasi kedua, saya membalikkan badan dalam posisi menungging dan memasukkan dildo dari arah belakang. Saya melihat bayangan tubuhku di cermin yang digantung di atas meja. Saya merasa seksi sekali. Mulutku terbuka lebar dan mataku setengah terpejam menikmati dildo yang dimasukkan ke vaginaku dari arah belakang. Saya merapatkan kedua belah kakiku hingga dildo itu rasanya bisa saya tekan dengan kuat dengan otot selangkanganku. Payudaraku yang bergelantungan tampak bergoyang-goyang mengikuti irama gerakanku. Beberapa menit kemudian, kembali saya orgasme. Saya langsung roboh ke kasur. Tubuhku basah oleh keringat. Cairan vaginaku membasahi sedikit sprei tempat tidur.

Saya beristirahat sejenak sementara dildo itu masih di dalam vaginaku. Saya lalu mendapat ide baru. Saya mengeluarkan dildo itu dari vagina lalu saya mengambil kursi. Kursi itu mempunyai sandaran yang dibuat dari beberapa kayu yang tegak lurus dan ada jarak dari antara satu kayu ke kayu lain. Saya selipkan dildo itu di antara kayu itu. Karena ukuran dildo yang besar, maka dildo itu bisa diselipkan dan tidak bergoyang sama sekali. Dildo itu mengacung membelakangi kursi. Saya lalu menggeser kursi itu ke arah meja rias. Lalu saya menungging bertopang pada meja rias sedangkan vagina kuarahkan pada dildo. Saya melihat posisiku yang cukup lucu karena saya berada dalam posisi doggy style dan dildo itu ditopang dalam sandaran kursi. Lalu mulai kembali saya perlahan memaju mundurkan pantatku. Dildo bisa masuk dengan baik dan kursinya sendiri tidak bisa bergeser kemana-mana karena tertahan oleh tempat tidur. Saya mulai mempercepat irama gerakanku. Gairah seksku seperti tiada hentinya bergelora dalam diriku. Sepertinya dildo ini bisa memahami keinginan seksku yang tinggi. Berkali-kali saya hunjamkan dildo itu ke dalam vaginaku. Vaginaku terasa berdenyut-denyut menerima sensasi seks yang diterima dari dildo itu. Nafasku tersengal-sengal. Rambutku berantakan dan keringat kembali bercucuran di dadaku. Saya meremas kedua belah payudaraku dengan gemas sembari terus memacu vaginaku dalam dildo itu. Saya ingat waktu itu dalam tempo waktu 15 menit bersetubuh dengan dildo dalam posisi tersebut, oohh..saya orgasme kurang lebih 6 kali. Akhirnya saya berhenti karena kecapaian. Saya melepaskan dildo itu dari vaginaku dan mencopotnya dari sandaran kursi. Saya membaringkan tubuhku yang lunglai di tempat tidur lalu tertidur selama 1 jam.

Begitu terbangun, saya langsung buru-buru membereskan kamarku dan membuang bungkusan dildo dan jel pelumas. Dildo itu sendiri saya cuci lalu saya bungkus didalam kaos beserta botol jel pelumas supaya tidak ketahuan ibuku. Saya jadi sedang senang bermain-main dengan dildo baruku. Hingga sekarang, saya sudah memiliki tiga buah dildo. Yang pertama adalah dildo pertama yang saya beli oleh sahabat saya di Singapore, kemudian dildo yang model bercabang dan ketiga dildo yang bisa bergetar sendiri memakai baterai. Selesai